Latest News

recent

IslamicTunesNews | NASYID SEBAGAI IDENTITAS DAN LOYALITAS


nasyid tak bermusik dan murottal

Masih terngiang nasyid pertama yang dulu pernah saya dengar berjudul
"ridholah aku dari arqom :)". dulu saya termasuk yang menganggap bahwa
selain nasyid tak bermusik dan murottal, bentuk hiburan yang lain yang
yang memakai alat musik, di larang. akan tetapi realitas bahwa alat
musik di bawa di nasyid, disini ulama berselisih pendapat.(lihat Hukum
Apa sich yang dikatakan nasyid?
Sekarang saya memahami bahwa karya seni seperti nasyid, rupa-rupanya
yang dinilai bukan hanya karyanya tapi termasuk senimannya
(pencipta) sehingga keduanya tidak bisa terpisahkan. Menurut A'a Gym
seseorang disebut munsyid jika dia bernyanyi senantiasa menyanyikan
syair-syair islami. Jika dikesempatan lain dia menyanyikan lagu yang
nggak islami, maka dia tidak disebut munsyid. Jadi ketika mendengar
nasyid maka unsur utama yang di resapi adalah ruh, syair yang
merupakan jiwa dari nasyid menampakkan ruhiyah sang pembuat.

Kadang kalau kita amati beberapa karya seni berupa nasyid ini di
bandingkan dengan karya seni suara lainnya yaitu seni musik selain
nasyid, ternyata ada kalanya kalah jauh dari sisi materi dan
teknologi. Sisi materi yang dimaksud adalah pendengaran (telinga),
tetapi kalau di dengar dari sisi ruhiyah, subhanAlloh.. tidak ada yang
seindah nasyid. Dengan nasyid ternyata kekuatan materi bukan
segala-galanya.

Bagaimana kita memperlakukan nasyid? Nasyid merupakan identitas.
Identitas bagi seorang muslim. Apakah hanya seorang muslim? Tidak,
hanya bagi muslim yang mngeaku dirinya kaffah, menyeluruh dalam
memandang islam. Memandang islami dari seluruh aspek, aspek ideologi,
aspek budaya, sosial, ekonomi, pendidikan, teknologi, hankam, bahkan
politik. Jihad di islam bisa di aspek mana saja berarti bersungguh
-sungguh di bidang apa saja.

Seorang muslim yang menuju dirinya ke arah ke-kaffah-an semestinya
memahami konsep al wala' wal bara'. Konsep loyalitas dan kebencian.
Pada siapa seorang muslim menaruh keberpihakan, kecintaan bahkan
pengorbanan. Tentu saja seorang muslim musti loyal pada Allah, Rosul,
Agama dan ummat ini. Sedang Kebencian hanya tuk yang melawan apa yang
didedikasikannya. Nasyid dari awal boomingnya, menurut saya adalah
suatu anugerah Alloh. Suatu karya seni islami yang bangkit seiring
dengan kesadaran umatnya tuk bangkit. Bukan sembarang karya seni
karena ada ruh kesadaran tuk mencintai Alloh, Rosul, agama dan umat
disana. Bukan sembarang karya seni, karena sang seniman menunjukkan
integritas dan semangat yang konsisten dipersembahkan karena Alloh,
Rosul, agama dan umat. Pilihan tuk mendengarkan nasyid bukan sekedar
pilihan. Sebagai mana jihad maka bernasyid dalam bentuk apapun adalah
suatu jihad sosial dan budaya. Sedangkan kewajiban jihad tidak tuk
semua muslim. Tapi hemat saya hanya bagi muslim yang mengaku dirinya
kaffah, atau menuju kaffah. Tidak ada beban bagi muslim yang 'ammah
(awam) karena segala bentuk kewajiban yang lalai baginya,
maf'u(dimaafkan) disisi Alloh insya Alloh.

Ada beberapa nasyid yang secara materi dan teknologi kurang layak di
dengar. Bagi saya nasyid bukan sekedar materi (kualitas pendengaran di
telinga) yang musti perfect. Tapi yang lebih utama adalah kekuatan
spiritual dari syair-syair dan sedikit motif loyalitas (ngefans).
Terbayang ratapan hubb(cinta) wa khouf(takut) syair-syair sang seniman
pada sang Pencipta. Terbayang perjuangan sang mujahid dakwah fi kulli
makan(di setiap bumi alloh) fi kulli zaman (di setiap zaman) melawan
tirani dan ketidakadilan. Lelehan air mata, inspirasi dan semangat
perjuangan adalah buah dan berkah berdakwah melalui nasyid.

Berusaha untuk berpaling dari karya seni biasa ke karya seni yang
islami seperti nasyid ibarat hijrah, fi dzulumati ilan nuur (dari
kebutaan pada terang benderang). Setelah sekian lama ruhani tidur
menuju ruhani rabbaniyyah (ketuhanan). Tidak ada pilihan lain selain
berkorban tuk umat. Sepahit apapun produk seorang muslim tapi karena
di buat oleh seorang muslim maka kecintaan pada alloh dan Rosul
segala-galanya walaupun pahit. Walaupun nasyid dari sisi teknologi
perlu dipoleslebih baik lagi, tapi sebenarnya sisi ruhanilah yang
membuat nasyid itu indah.

Bagaimana jika sesekali kita mendengar musik biasa? Menurut saya
pribadi hal ini tidak menyalahi aturan syariat(mohon dikritisi)
kecuali kalau jiwa (kandungan lirik, judul, warna) adalah menyekutukan
Alloh dan mengingkari Rosul, agama serta umat ini. Bagi seorang muslim
yang kaffah atau mengaku dirinya kaffah, permasalahan ini kembali pada
identitas dan loyalitasnya seperti halnya pertanyaan bagaimana jika
kita membeli produk-produk selain umat islam, atau perlukah kita
membuka rekening di bank-bank syariat yang non riba. Semua itu
semata-mata karena jihad dan pengorbanan. Tidak seberat perjuangan
jihad fisabilillah dalam arti sempit yaitu jihad perang membela agama
Alloh yang mengorbankan harta dan nyawa. Semoga Alloh memaafkan dosa2
saya karena telah lalai mengutamakan agama dan umat ini.

Bagaimana dengan murottal? Tidak ada hiburan yang paling utama bagi
seorang mukmin kecuali ayat2 suci Nya. Tidak ada keraguan bahwa
berhibur dengan kalimat2 Nya yaitu Kalamulloh adalah berpahala baik
memperindah bacaan maupun mendengar. Karena sebaik baik diantara kita
adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya.

Semoga Alloh memberi kekuatan istiqomah untuk senantiasa di jalan Nya.


Tuk pejuang2 nasyid yang setia di manapun berada !!.
IslamicTunesNews | NASYID SEBAGAI IDENTITAS DAN LOYALITAS Reviewed by Ibnu Syahrizal on 10:53 PM Rating: 5

No comments:

Assalamualaikum. Feel free to comments, giving ideas and taking parts for discussion on any content within this blog and its link, but please mind your words and behave as syaria compliance. We're Muslim, we're brothers and sisters....we're family!

Copyright © 2019 - Loonaq Records | IslamicTunes. All Rights Reserved.
Template by: Uong Jowo IslamicTunesNews | Muslim Musicpreneurs Community
Powered By Blogger

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.